Selamat pagii..
Aku bikin tulisan ini kebetulan masih pagi hari ya, makanya aku nyapa kalian yang baca ini selamat pagi. Gaes.. Kamu tentu sudah baca dong info tentangku yang pernah aku post sebelumnya? Aku sudah menikah di tahun 2020. Aku menikah dengan orang Purbalingga yang geser ke selatan sedikit dari Pemalang hehe.. Sebagai orang Pemalang yang memiliki suami orang Purbalingga, tentu saja perbedaan itu ada loh
Perbedaan-perbedaan ini tidak hanya dari segi kosa kata, namun juga dari kebiasaan yang dilakukans setiap hari. Apa iya? Iya.. singkatnya begini. Aku memang setiap hari tinggal di Pemalang karena kebetulan suamiku kerjanya juga di Pemalang jadi biar pulangnya deket, dan juga biar bisa bertemu setiap hari. Meskipun tiap hari di sini, bukan berarti ga pernah ke Purbalingga ya. Aku juga sering mengunjungi rumah mertuaku di purbalingga, khususnya di hari libur yang cukup panjang seperti lebaran dan hari besar lain. Biasanya aku kesana itu 2-3 hari, tapi kadang juga singkat hanya satu hari satu malam saja.
Nah, setelah aku menikah dengan suamiku ada banyak kebiasaan yang menurutku sangat berbeda dengan kebiasaan yang aku lakukan disini. Sebuah culture shock karena aku merasakannya cukup bingung di awal dan merasa ini cukup aneh bagiku. Ya meskipun lama-lama akhirnya cukup terbiasa.
Apa Saja Culture Shock yang Dirasakan?
Sebelum membahas lebih dalam lagi, kamu pasti ada yang bingung kan, apa sih itu culture shock. Yaps, culture shock merupakan situasi atau perasaan cemas, bingung ketika menghadapi sebuah lingkungan yang baru. Termasuk aku ini, di awal-awal yang bingung, karena bagiku di purbalingga adalah lingkungan yang baru. Beberapa culture shock yang aku rasakan diantaranya :
1. Perbedaan Logat dan Komunikasi
Kami sama-sama di lingkungan ngapak, bahasa yang kami gunakan adalah bahasa jawa ngapak. Tapi ternyata meskipun sama-sama ngapak ada banyak bahasa yang menurutku cukup membuat aku bingung. Misalnya untuk penggunaan kata "tatakan gelas" ditempatku disebut dengan "ciri", sedangkan di tempat suamiku menggunakan kata "lambar" . Ditempat suamiku, kata "ciri" justru digunakan untuk tempat mengulek sambal atau cobek. Cobek ditempatku disebut dengan kata coet. Cukup berbeda bukan?
Tidak hanya itu, sederhana saja untuk penggunaan kata kamu ditempatku lebih banyak menggunakan kata sampeyan, njenengan atau koen. Sedangkan di purbalingga menggunakan kata "Ko". Bahasa lain, misalnya untuk rak piring, ditempatku menggunakan kata rak piring atau sragen, sedangkan ditempat suamiku disebut dengan paga-paga.
Perbedaan yang cukup lumayan membuatku sering bingung. Karena pernah sekali Aku disuruh mengambil tatakan gelas di rak piring, aku justru diam saja dan tidak mengambil apapun. Aku belum tahu arti dari bahasa yang digunakan.
2. Perbedaan Untuk Sumbangan Hajatan
Hajatan umumnya dilakukan oleh masyarakat yang akan melangsungkan pernikahan atau akan mengkhitan anaknya. Biasanya saat tetangga hajatan, kita akan memberikan sumbangan kepada mereka. Ini cukup berbeda yang ada ditempatku dan tempat suamiku. Perbedaan paling mendasar adalah besarnya sumbangan dan tata caranya.
Jika ditempatku saat orang lain hajatan, kita membawa beras berapa liter dan uang berapa, nanti ditempat hajatan tesebut akan dicatat. Kemudian nanti akan disuruh untuk medang alias makan jajan yang sudah disediakan. Pulangnya nanti akan dibawakan berkat berupa nasi dan lauk-pauk. Sedangkan ditempat suamiku, hajatan bebas membawa apapun, jika di tempat bukan saudara umumnya hanya membawa uang saja dan tidak besar. Uang yang dibawa ini tidak dicatat, karena paling penting adalah hadir di tempat tersebut.
Saat ditempat hajatan, kita akan disuruh untuk medang atau makan jajan kemudian disuruh juga untuk makan nasi prasmanan yang sudah disediakan. Berkat yang dibawa pulang nanti bukanlah berupa nasi, melainkan makanan mentah biasanya mie instan, minuman teh dan juga jajan bungkusan yang sudah disiapkan.
Hal lain yang perlu kamu tahu, ditempatku jika saat kita hajatan orang lain tidak datang dan tidak ada catatan sumbangan maka saat orang tersebut hajatan kita tidak wajib untuk datang. Kalau ada catatannya, maka wajib datang dan membawa uang ataupun beras sesuai yang ada didalam catatan. Sedangkan di tempat suamiku, saat diundang harus datang meskipun kita hanya hajatan satu kali dan orang tersebut sudah 10x. Bayangkan saja, jika setiap bulan ada 10 orang maka harus mempersiapkan uang yang cukup banyak untuk sumbangan hajatan.
3. Perbedaan Sumbangan Lahiran
Saat ada orang atau tetangga lahiran umumnya kita akan menjenguk untuk melihat si bayi. Bawa atau tidak bawa, yang penting datang untuk menjenguk. Eh tapi kalau ga bawa ya gimana yaa.. hehe.. Ditempatku ga wajib dateng sih, soalnya sistemnya cukup berbeda dengan yang ada ditempat suamiku. Kalau ditempatku, aku hanya datang ke tempat teman atau saudara saja. Menjenguk dengan membawa perlengkapan bayi, dan lain-lain. Apapun yang kita bawa nantinya akan dicatat dan ketika aku melahirkan barang-barang tersebut akan dikembalikan lagi dengan jumlah yang sama. begitu juga sebaliknya.
Tapi ditempat suamiku, siapapun yang melahirkan wajib dijenguk dengan membawa uang ataupun lainnya. Menjenguk bayi ditempat suamiku disebut dengan Muyi. Umumnya saat menjenguk akan membawa uang yang diamplop, kemudian saat pulangnya akan dibawakan sabun atau detergen yang sudah disiapkan. Misalnya orang tersebut datang ke tempat kita saat kita lahiran, kita tidak wajib nyaur atau bayar saat muyi, tapi bisa saat anaknya khitan atau hajatan lain.